Tuesday, November 15, 2016

Joko Purwadi : Pengabdi Kaum Disabilitas / Part1

  No comments


Oleh : Dicky Puja Pratama
Reportase bersama : Zidny Ilmi
PROLOG

Manusia tidak dapat menentukan kelahiran dirinya sendiri di dunia. Bakal jadi anak siapa dia nanti. Entah akan menjadi anak manusia tukang becak, manusia koruptor, manusia pengungsi Syuriah, manusia raja dan ratu Inggris Raya sekalipun. Untuk memilih di rahim wanita mana ia akan dikandung pun tidak dapat, walau hanya sekedar mengintip. Dengan iklhlas menerima takdir tuhan penentu segala nasib. Bahkan orangtua sendiri tidak dapat menentukan bakal menjadi seperti apa manusia yang akan dibesarkannya. Sekadar menentukan bentuk hidung, manis senyum, dan lesung pipi pun tidak. Hanya membuahi dan menerima segala ketentuan sang Maha Pencipta. Orangtua mempunyai doa dan harapan, agar manusia calon anaknya terlahir dengan keadaan sempurna. Keadaan sempurna seperti orang kebanyakan – dengan jumlah jari lengkap, dua kaki dan dua tangan -  syukur jikalau punya kelebihan hidung mancung. Namun dunia menentukan cerita yang berbeda untuk setiap kepala manusia. Terkadang mereka yang tidak dapat menentukan kelahiran dirinya sendiri itu lahir dengan perbedaan bentuk fisik dari manusia normal. Difabel, begitu nama untuk orang yang kurang sempurna fisik nya. Meski begitu tentu saja mereka memiliki akal dan pikiran, hati dan perasaan. Hanyak kurang beruntung saja dibandingkan orang yang diberi kesempurnaan fisik. Tidak ada lain selain kurang beruntung.
Ada juga manusia yang memiliki fisik sempurna, namun tidak dapat mereka nikmati hingga seumur hidupnya. Mereka yang mengalami musibah, kecelakaan, korban perang juga bisa menjadi difabel. Korban gempa misal nya, ambil lah dari tahun 2006 lalu di Yogyakarta. Dengan korban meninggal mencapai ribuan orang, menyisakan mereka yang kehilangan fungsi dan anggota sebagian badan.
YPCM (Yayasan Penyandang Cacat Mandiri) adalah yayasan yang didirikan dengan tujuan awal untuk menampung korban gempa Yogyakarta. Walaupun pada kenyataan saat ini, juga menampung penyandang disabilitas yang bukan korban gempa jogja 2006 silam. Dibangun dengan donasi dari Japan Red Cross, salah satu lembaga donor milik negara matahari terbit, Jepang. Menampung penyandang disabilitas pasca rehabilitasi. Lalu kemudian dilatih dan diajar untuk memiliki kemampuan, dalam hal ini kemampuan untuk mengolah barang produksi dari kayu. Produk yang dihasilkan diantaranya adalah produk edukasi anak. Yang kualitas nya tidak kalah bersaing dengan produk serupa lainnya diluar sana. Hingga saat ini YPCM nenampung 18 penyandang disabilitas.
Joko Purwadi, sosok yang akan menjadi tokoh utama tulisan ini, adalah ketua YPCM yang beralamat di Jl. Parangtritis, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di jalan jurusan Pantai Parangtritis ini setiap hari Joko mengabdikan dirinya untuk membantu kaum penyandang disabilitas. Lahir di Yogyakarta 26 Maret 1955, Joko menjadi anak sulung dari empat bersaudara. Seorang lelaki sarjana muda - sebutan tidak resmi yang diberikan pada mahasiswa perguruan tinggi yang telah menyelesaikan sejumlah batas kredit tertentu dalam pendidikannya(wikipedia) – jurusan filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Kateketik Pradnyawidya Yogyakarta. Sekolah tinggi yang mengajarkan mahasiswanya tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis. Hal itu juga yang dipelajari oleh Joko selama masa study nya.

No comments :

Post a Comment