Showing posts with label disabilitas. Show all posts

Tuesday, December 6, 2016

Joko Purwadi : Pengabdi Kaum Disabilitas / Part4

  No comments
4:50 AM



baca part1, part2, dan part3 
 
Joko pensiun sabagai seorang Tentara Angkatan Darat pada 1 April 2013. Dengan jabatan terakhir Kepala Sekretariat Umum Kodam 6 Mulawarman di Balikpapan. Namun setelah pensiun sebagai seorang tentara, tidak menghentikan Joko untuk mendarmabaktikan diri kepada Ibu Pertiwi. Ia terobsesi untuk melakukan kegiatan – kegiatan yang bersifat sosial. Beberapa saat setelah pensiun, Joko mendapat tawaran untuk berkegiatan sosial di YPCM. Tanpa berfikir panjang ia langsung menerima tawaran itu. Pada masa awal darmabaktinya di YPCM Joko hanya melakukan pekerjaan membantu apa saja yang bisa ia bantu. Namun dalam perjalanannya ia melihat ada hal yang perlu dibenahi pada YPCM. Yaitu ketertiban administrasi dan keungan yang ia rasa kurang beres. Lalu Pembina dan pengawas YPCM menugaskan ia sebagai ketua hingga saat ini. Seperti dayung bersambut, sesuai dengan niat Joko untuk menjadi manusia yang bermanfaat sampai dirinya sudah tidak mampu lagi.
Sari, salah satu penyandang disabilitas yang bertugas sebagai penjaga showroom YPCM memberikan sedikit kesan nya terhadap Joko. Wanita pramuniaga yang telah bekerja sejak tahun 2008 itu mengatakan bahwa : sejak diketuai Joko keadaan di YPCM menjadi lebih baik dan mendapat lebih banyak order. Sari berada di YPCM bersama suaminya Anton yang bekerja di bagian produksi. Mereka bekerja enam hari seminggu, mulai dari pukul 08.00 – 15.30.
Sampai saat nya di bagian harapan. Harapan Joko tentunya. Ia mengungkapkan, bahwa sebenarnya penyandang disabilitas memiliki banyak kemampuan dalam berbagai hal. Ia sendiri mengatakan jikalau produk yang dihasilkan pekerja YPCM sama kualitasnya dengan produk orang normal. Mereka hanya memerlukan perjuangan untuk mendapatkan pengakuan dan komunitas untuk memberikan rasa nyaman. Karena pada kenyataan yang Joko ketahui, bahwa pekerja penyandang disabilitas sering merasa tidak kerasan (betah), atau dibuat tidak kerasan jika menjadi pekerja diluar sana. Namun hal ini tidak mematahkan semangat mereka. Bahkan salah satu penyandang disabilitas yang pernah bergabung dengan YPCM telah berhasil mendirikan usaha mandiri. Membangun bengkel las sendiri dengan pekerja yang juga penyandang disabilitas.  Itu lah harapan terbesar Joko. Bahwasanya mereka yang dibina di YPCM mampu mandiri menghidupi.
Joko mengakui masih banyak hal yang belum memenuhi harapan kehidupan difabel di Yogyakarta. Ada gagasan dari teman Joko yang juga penyandang disabilitas untuk menjadikan Yogyakarta sebagai kota ramah difabel. Hal ini tentu memerlukan proses yang panjang dan tidak bisa tercapai jika hanya disuarakan saja. Perlu pelaksanaan dari kata – kata. Impian Joko, Yogyakarta bisa menjadi percontohan kota ramah difabel dan ini tentu saja akan memberikan nilai plus untuk kota Pelajar itu sendiri.
Joko juga mempunyai pengharapan untuk penyandang disabilitas pada bidang pendidikan. Ia menyadari bahwa mereka juga memiliki kemampuan yang sama dibidang akademis. Perguruan Tinggi diharapkan Joko bisa menerima mereka, jika memang mereka memiliki kemampuan dan kemauan untuk menimba ilmu. Jangan dipandang sebelah mata, beri mereka kesempatan dan kepercayaan untuk mampu bersaing. Begitulah kalimat terakhir yang disampaikan Joko hari itu, bersamaan dengan selesainya semua manik – manik yang sedang ia bersihkan.

Read More

Tuesday, November 29, 2016

Joko Purwadi : Pengabdi Kaum Disabilitas / Part3

  No comments
4:44 AM



baca dulu part1 dan part2
Hasil karya disabilitas
Gambar diatas merupakan salah satu hasil karya penyandang disabilitas di Yayasan Penyandang Cacat Mandiri yang di ketuai oleh Joko Purwadi

Dunia memberikan cerita yang berwarna kepada Joko. Saat melakukan dinas di Samarinda, Joko berhasil mendaftar dan meluluskan dirinya sebagai Sarjana Bidang Jurnalistik di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Mahakam. Begitulah kisah pendidikan perguruan tinggi Joko Purwadi. Tentu saja perjuangan nya dulu tidak semudah seperti perjuangan membaca dan membayangkan nya dari tulisan ini.
Sebagai seorang militer, tugas pertama yang di tanggung Joko adalah menjadi perwira Pembina mental. Sudah pasti tugasnya adalah membina mental para prajurit untuk memiliki jiwa korsa dan cinta tanah air. Hal ini sesuai dengan disiplin ilmu yang dikuasai oleh Joko. Karena seorang prajurit tidak cukup hanya dengan memiliki kemampuan fisik yang baik dan jitu menembak musuhnya, harus lah mental yang berani mereka miliki juga. Ia menjalani tugasnya di Samarinda, Ibu Kota Kalimantan Timur.
Kehidupan Joko selama menjadi penggembleng mental prajurit bukan sepenuhnya penuh ketegasan dan kedisiplinan ala militer Indonesia. Disisi lain, setelah ia menjalani dinas selama enam bulan, ia menikahi gadis cantik idaman nya. Gadis yang dikenalnya sedari dulu, sejak ia mengenyam pendidikan di Kampus Kateketik Pradnyawidya Yogyakarta. Dengan penuh ketulusan dan kejujuran Joko mengaku tidak pandai mencari pacar, maka dari itu teman wanita satu kampus sendiri yang bisa ia jadikan kekasih. Dengan sedikit tertawa, mungkin geli akan dirinya sendiri beberapa tahun yang lalu Joko menceritakan hal itu. Rosa Ariwati. Nama wanita yang diceritakan Joko sedari tadi yang juga istri setianya. Wanita Kologendang, Ngawen, Muntilan yang lahir pada 5 Agustus 1962. Yang menjadi ibu dari tiga anak Joko. Mengikat janji suci setia sebaga suami istri pada tanggal 29 Januari 1986. Dengan Muntilan – daerah di utara Kabupaten Magelang - tempat kelahiran sang istri tercinta yang menjadi saksi sumpah setia mereka berdua. Begitu hafal dan fasihnya ia mengingat dan menceritakan pernikahan nya 30 tahun silam.
Hanya sedikit hal yang diceritakan Joko mengenai kisah asmara dan keluarganya. Setelah bernostalgia dengan gelora cinta dirinya sewaktu muda, Joko kembali menjelajahi ingatan nya. Satu per satu ia jumputi kenangan hidup nya. Kembali ia menceritakan tentang pengalaman nya sebagai seorang prajurit. Pada saat bercerita, Joko yang sedang membersihkan manik - manik merah dari kotoran menggunakan cutter itu nampak begitu tenggelam. Tenggelam pada masa lalu, seakan ia sedang berdiri pada waktu yang telah lampau itu. Pandangan matanya begitu dalam hanya untuk seorang yang sedang membersihkan manik – manik. Ia membawa pendengar cerita nya dan juga dirinya sendiri pada tugas nya yang terakhir di Timor Timur.
Ia menegaskan, bahwa tugas dinas terakhirnya di Timor Timur adalah satu yang paling berkesan. Jika dirangkai ulang tanpa bermaksud mengubah pokok pikiran Joko begini ceritanya : pada saat itu ia sedang bertugas di Timor Timur dan bertepatan dengan diadakan nya Referendum, yang mana Timor Timur akan diberikan pilihan lebih besar otonomi dalam Indonesia atau merdeka. Timor Timur adalah daerah yang menjadi rebutan negara negara penjajah. Ialah Belanda, kemudian Portugal setelah berhasil merebut dari Jepang pada saat Perang Dunia II. Sesuai background nya sebagai seorang jurnalis, Joko menampung para wartawan di tempat ia berdinas. Waktu itu keadaan begitu chaos. Hingga membuat sulit nya bagi Joko dan rekan wartawan untuk mendapatkan bahan makanan. Bahkan uang tidak bisa digunakan hanya untuk sekadar membeli nasi. Karena memang pada saat itu tidak ada “warung yang buka”, kenang Joko. Para pejuang itu hanya bisa memakan mi instan dan ikan asin sebagai pengenyang perut mereka. Namun ditengah tengah ketidaknikmatan itu, salah watu wartawan senior Albert Kuhon berhasil membuat Joko mendapat kenangan terindah nya selama menjadi tentara. Albert Kuhon berkata kepada rekan seperjuangan nya sembari menikmati mi instan dengan paduan ikan asin, “ini adalah makanan paling enak yang pernah saya rasakan”. Kalimat sesederhana itu, berhasil menggoreskan kenangan yang mendalam di hati dan ingatan Joko.

Read More

Monday, November 21, 2016

Joko Purwadi : Pengabdi Kaum Disabilitas / Part2

  No comments
10:14 PM

http://buku-otobiografi.blogspot.co.id/
Beberapa pekerja (penyandang disabilitas) sedang membuat kerajinan dari kayu di Yayasan Penyandang Cacat Mandiri, yang diketuai oleh Joko Purwadi (Pengabdi Kaum Disabilitas)



Baca Part 1

Ketika kita bekerja untuk kebaikan, Tuhan selalu memberikan jalan
Pendidikan Joko Purwadi (Pengabdi Kaum Disabilitas)
Setelah lulus dari sekolah tinggi filsafat Joko ingin meneruskan pendidikan nya ke jenjang Sarjana atau S1 di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Mahakam. Dengan harapan gelar yang sedikit lebih tinggi ketimbang sarjana muda yang sudah ia terima. Namun pada saat itu cita cita untuk meraih gelar S1 terhalang. Terhalang bukan karena biaya, bukan karena tidak mendapat restu orang tua; ialah syarat. Syarat, suatu ketentuan yang harus dipenuhi untuk dapat mengenyam pendidikan yang bisa memberi gelar S1 : harus memiliki pengalaman kerja selama minimal satu tahun! Begitu berbedanya dengan saat ini :  Siswa lulusan SMA yang sama sekali belum pernah menyentuh pekerjaan dapat dengan mudah mendaftarkan diri ke Perguruan Tinggi yang dikehendaki. Tentu saja dengan modal kepandaian yang di ukur dari perolehan nilai sewaktu duduk di bangku belakang meja SMA. Ada juga yang melewati jalur tes, lebih dikenal dikalangan pelajar dengan singkatan kondang “SBMPTN” (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Harus mengisi soal ujian tertentu dan mendapat nilai rata-rata yang tinggi agar bisa diterima. Dengan nilai rata – rata tinggi, calon mahasiswa dapat mengalahkan saingan mereka, sesama pelajar SMA untuk memasuki perguruan tinggi negeri yang didambakan. Dari itu semua tidak ada syarat harus sudah kerja satu tahun, entah apa alasan dibalik syarat wajib sudah bekerja selama 12 bulan itu. Tetapi  Joko adalah seorang pemuda yang tidak gampang menyerah. Lakukan. Ia mencari pekerjaan demi memenuhi syarat sang pintu gerbang perguruan tinggi.
Pepatah bilang, “semakin tinggi layang - layang terbang, semakin besar angin yang akan menerpa”. Kalimat orang bijak itu sangat pas dengan keadaan Joko waktu itu. Belum selesai bekerja satu tahun, Tanah Air Indonesia sudah memanggil nya untuk melakukan wajib militer. Wajib militer atau seringkali disingkat sebagai wamil adalah kewajiban bagi seorang warga negara berusia muda terutama pria, biasanya usia antara 18 - 27 tahun (dibawah usia 50 tahun di Indonesia) untuk menyandang senjata dan menjadi anggota tentara dan mengikuti pendidikan militer guna meningkatkan ketangguhan dan kedisiplinan seorang itu sendiri (Wikipedia). Sebagai warganegara yang baik, Joko tentu saja memenuhi panggilan Ibu Pertiwi. Meskipun latarbelakang keluarganya bukan militer. Hanya pakdhe atau kakak laki – laki dari orang tuanya yang seorang militer. Menempuh jenjang pendidikan militer dari wajib militer angkatan tahun 1984. Setelah berjuang menjalani pendidikan layaknya prajurit, akhir nya Joko dinyatakan lolos tes.  Tidak berhenti di sana, Joko lantas melanjutkan pendidikan sebagai wamil diangkatan tahun 1984-1985 di Bandung (Sekarang Magelang).
Bersambung...
DOWNLOAD TULISAN NYA DI SINI

Read More